Selasa, 07 Juni 2016

Budaya Asing yang Sulit dan Mudah Diterima di Indonesia

BUDAYA ASING YANG SULIT DITERIMA DAN MUDAH DITERIMA DI INDONESIA


Kaitan Manusia Dengan Kebudayaan

Manusia seperti yang kita tahu, sangat erat kaitannya dengan arti kebudayaan. Kebudayaan itu ibaratnya seperti ciri khas dari manusia yang menggunakan kebudayaan tersebut. Banyak sekali kebudayaan di negara Indonesia tercinta kita ini, salah satunya adalah seperti kebudayaan Jawa, dan masih banyak lagi.
Hakikat manusia dalam melestarikan dan menjaga kebudayaan adalah suatu keharusan agar tidak terpengaruh oleh kebudayaan lainnya. Kita harus menjaga keaslian budaya kita karena kebudayaan tersebut merupakan warisan dari nenek moyang kita dahulu. Namun akhir-akhir ini, kita pasti sudah tahu kalau banyak dari kebudayaan di negara kita ini telah terpengaruh oleh kebudayaan luar, khususnya kebudayaan barat. Ya, itu benar. Ini merupakan efek dari arus globalisasi yang sangat kencang sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan dari luar yang bebas keluar masuk ke dalam negara kita ini sehingga kebudayaan kita agak sedikit ‘terpengaruh’ oleh kebudayaan luar, khususnya kebudayaan barat. Ini merupakan kelalaian masyarakat sekarang yang tidak mampu menjaga keaslian budaya itu merupakan warisan dari nenek moyang kita terdahulu. Tapi ini sudah terlambat untuk diatasi. Mengapa? Ibaratnya itu kita seperti berjalan melawan arus yang sangat kencang, seperti itulah yang masyarakat kita sedang alami. Mereka tidak mempersiapkan pertahanan untuk melawan arus kencang tersebut. Bahkan mereka mulai mengikuti arah arus tersebut. Hal ini sangat berbahaya karena jika ini dibiarkan terus maka kebudayaan asli kita akan perlahan-lahan hilang. Tidakkah kita berpikir, bagaimana dengan anak cucu kita kelak yang akan mewariskan kebudayaan kita, sedangkan kebudayaannya itu sudah ‘tercemar’ oleh kebudayaan asing atau luar? Apakah mereka akan bangga dengan kebudayaannya itu? Sungguh ironis memang.
 Jadi kesimpulan dari uraian di atas adalah kaitan manusia dan kebudayaan sangatlah erat, sebab kebudayaan timbul karena hasil karya cipta dan karsa dari manusia itu sendiri. Dengan kebudayaan dapat mengatur kehidupan manusia untuk hidup bersosialisasi dengan manusia lain di sekitarnya. Dan kebudayaan dapat hilang karena masuknya budaya lain. Oleh sebab itu, banyak suku lain menolak kebudayaan dari luar di khawatirkan akan merusak kebudayaan yang mereka anut sejak jaman dahulu. 



Kebudayaan Yang Mudah Diterima di Indonesia

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk dapat berinteraksi dan bertahan hidup. Hal tersebut benar – benar dianut oleh masyarakat pada bangsa timur terutama Indonesia. Rasa kebersamaan yang kuat bisa dibilang sebagai kepribadian bangsa. Segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu. Di Indonesia banyak sekali kebudayaan dan kepribadianyang ada, karena seperti yang kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak sekali suku sehingga dengan sudah sangat pasti kebudayaannya pun berbeda.
Sistem ideologi yang ada biasanya meliputi etika, norma, adat istiadat, peraturan hukum yang berfungsi sebagai pengarahan dan pengikat perilaku manusia atau masyarakat agar sesuai dengan kepribadian bangsa yang sopan, santun, ramah, dan tidak melakukan hal – hal yang dapat mencoreng kepribadian bangsa. Sistem sosial meliputi hubungan dan kegiatan sosial di dalam masyarakat. Sistem teknologi meliputi segala perhatian serta penggunaanya, sesuai dengan nilai budaya yang berlaku. Pada saat unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut.
Pada dasarnya masyarakat daerah timur dengan contoh Indonesia, sangat terbuka dan toleran terhadap bangsa lain, tetapi selama masih sesuai dengan norma, etika serta adat istiadat yang ada di Indonesia. Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah unsur kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya. Contohnya : Handphone, komputer, dan lain – lain.




Berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya :
1. Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
2. Jika pandangan hidup dan nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama.
3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru. Misalnya sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan baru.
4. Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
5. Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas.

Kebudayaan Yang Sulit Diterima di Indonesia
Di antara berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya sesuatu unsur kebudayaan baru atau asing dalam suatu masyarakat yang biasanya cukup berperan adalah:
1. Terbiasanya masyarakat tersebut mempunyai hubungan/kontak kebudayaan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut, yang mempunyai kebudayaan yang berbeda. Sebuah masyarakat yang terbuka bagi hubungan-hubungan dengan orang yang beraneka ragam kebudayaannya, cenderung menghasilkan warga masyarakat yang bersikap terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan asing. Sikap mudah menerima kebudayaan asing lebih-lebih lagi nampak menonjol kalau masyarakat tersebut menekankan pada ide bahwa kemajuan dapat dicapai dengan adanya sesuatu yang baru, yaitu baik yang datang dan berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, maupun yang berasal dari kebudayaan yang datang dari luar.
2. Kalau pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam kebudayaan tersebut ditentukan oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama; dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada dalam masyarakat tersebut; maka penerimaan unsur-unsur kebudayaan yang baru atau asing selalu mengalami kelambatan karena harus di sensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan pada ajaran agama yang berlaku. Dengan demikian, suatu unsur kebudayaan baru akan dapat diterima jika unsur kebudayaan yang baru tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama yang berlaku, dan karenanya tidak akan merusak pranata-pranata yang sudah ada.
3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan unsur kebudayaan baru. Suatu struktur sosial yang didasarkan atas sistem otoriter akan sukar untuk dapat menerima suatu unsur kebudayaan baru, kecuali kalau unsur kebudayaan baru tadi secara langsung atau tidak langsung dirasakan oleh rezim yang berkuasa sebagai sesuatu yang menguntungkan mereka.
4. Suatu unsur kebudayaan baru dengan lebih mudah diterima oleh suatu masyarakat kalau sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut. Di pedesaan di pulau Jawa, adanya sepeda sebagai alat pengangkut dapat menjadi landasan memudahkan di terimanya sepeda motor di daerah pedesaan di Jawa; dan memang dalam kenyataan demikian.
5. Sebuah unsur baru yang mempunyai skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan, dibandingkan dengan sesuatu unsur kebudayaan yang mempunyai skala luas dan yang sukar secara konkrit dibuktikan kegunaannya. Contohnya adalah diterimanya radio transistor dengan mudah oleh warga masyarakat Indonesia, dan bahkan dari golongan berpenghasilan rendah merupakan benda yang biasa dipunyai.
Dari beberapa pokok pembicaraan yang dikemukakan di atas berkenaan dengan penerimaan unsur-unsur baru, dapat dikatakan bahwa inovasi bisa terdapat karena: 1) inovasi tersebut bertentangan dengan pola-pola kebudayaan yang sudah ada; 2) kalau inovasi tersebut akan mengakibatkan perubahan pola-pola kebudayaan dan struktur sosial yang sudah ada dan menggantikannya dengan yang baru; 3) kalau inovasi tersebut bersifat mendasar berkenaan dengan pandangan hidup atau nilai yang ada dalam masyarakat bersangkutan: misalnya “free lover” untuk masyarakat Indonesia akan ditentang kalau harus diterima sebagai suatu cara hidup; 4) disamping itu bila inovasi itu dianggap terlalu mahal biayanya juga akan terhambat dalam penciptaannya maupun dalam penyebaran atau difusinya, terkecuali kalau oleh kelompok yang digolongkan sebagai “vested interests” (suatu kelompok yang mempunyai pengaruh atas kehidupan sosial dan mempunyai andil untuk menarik keuntungan atas kehidupan sosial yang ada) inovasi tersebut dianggap menguntungkan maka inovasi akan diterima.
Penerimaan atas unsur baru atau inovasi dapat mengakibatkan terwujudnya berbagai kekacauan sosial yang merupakan perwujudan- perwujudan dari proses perubahan sosial, sebelum inovasi tersebut diterima dengan mantap dan menjadi baku dalam tata kehidupan sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kekacauan sosial tersebut biasanya dinamakan sebagai disorganisasi sosial (social disorganization). Dalam keadaan kekacauan sosial ini, aturan-aturan atau norma-norma lama sudah tidak berlaku lagi atau sebagian-sebagian masih berlaku sedangkan aturan-aturan atau norma-norma lama tersebut dalam mengatur kehidupan sosial warga masyarakat. Sehingga dalam tahap ini terdapat semacam kebingungan atau kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan sosial.
Bila unsur-unsur baru telah mantap diterima dan norma-norma atau aturan-aturan baru telah mantap menjadi pegangan dalam berbagai kegiatan sosial, maka dapatlah dikatakan bahwa masyarakat tersebut telah mencapai tingkat tertib sosial lagi. Tidak selamanya suatu penerimaan inovasi menimbulkan kekacauan sosial. Kekacauan sosial terwujud bila inovasi tersebut menyebabkan adanya perubahan-perubahan yang mendasar pada pranata-pranata yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan.
unsur-unsur kebudayaan asing yang sulit diterima adalah misalnya :
1. Unsur-unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain.
2. Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat.
3. Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru.
4. Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi, selalu ada kelompok-kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi.



Selasa, 03 Mei 2016

Laporan Perjalanan Museum Bank Indonesia



LAPORAN PERJALANAN MUSEUM BANK INDONESIA


            Pada tugas Ilmu Budaya Dasar kali ini kami mengunjungi museum Bank Indonesia sebagai bahan untuk penulisan makalah. Museum Bank Indonesia adalah museum yang dibuat agar para pengunjung dapat mengetahui tentang perekonomian dari masa ke masa. Dari masa Penjajahan sampai masa Sekarang(reformasi). Museum Bank Indonesia sendiri diresmikan oleh presiden ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 Juli 2009. Untuk bisa masuk ke dalam museum Bank Indonesia kita hanya cukup membayar Rp 5.000 dan bagi pelajar ataupun mahasiswa bisa di gratiskan dengan hanya cukup menunjukkan kartu pelajar. Jadwal buka Museum Bank Indonesia selasa-jumat mulai pukul 10.00-16.00 WIB sedangkan Sabtu-Minggu mulai pukul 10.00-17.00.


            Pertama ketika kita masuk ke dalam museum Bank Indonesia harus membeli tiket nya seharga Rp 5.000 jika pelajar maka akan gratis masuk ke dalam museum Bank Indonesia. Setelah selesai membeli tiket tersebut kita diharuskan menitipkan barang berharga kita ke tempat penitipan barang dan selama di dalam museum Bank Indonesia kita tidak boleh membawa minuman ataupun makanan.


            Setelah masuk pertama kita akan disuguhkan seperti Virtual Reality disitu bisa bermain dengan mengambil logam-logam setelah itu bisa kelihatan besaran logam itu secara nyata. Setelah selesai masuk lebih ke dalam disana kita diperlihatkan dengan baju-baju para penjajah dan pahlawan, dari penjajah terdapat baju tentara dari jepang dan tentara dari Belanda. 




Lalu setelah di perlihatkan dengan baju-baju tentara, kita disuguhkan dengan biorama bagaimana tata cara meminjam uang ke Bank pada masa penjajahan . Lalu setelah masuk lebih kedalam lagi disana terdapat gambaran mengenai bagaimana perjalanan perekonomian Indonesia dari masa Penjajahan, masa orde lama, orde baru yaitu dimana kondisi pada saat perekonomian Indonesia mengalami Defisit yang sangat tinggi sampai menyebabkan terjadi nya inflasi yang sangat tinggi.


         

Logo Bank Indonesia


            Melangkah maju ke ruang selanjutnya,kita dapat melihat beberapa aspek menarik dari bank ini, salah satunya adalah metamorfosa dari Logo Bank Indonesia. Logo Bank Indonesia ternyata berubah-ubah selama beberapa periode. Logo Bank Indonesia identic dngan huruf “BI” yang merupakan singkatan dari bank Indonesia. Gambar di samping merupakan gambar metamorfosa BI dari waktu ke waktu. Logo Bank Indonesia sebenarya berdasar pada logo De Javaneshe Bank dan telah berubah-ubah seiiring berjalanna waktu. Dai tahun 1953 sampai tahun 2005, logo bank Indonesia telah mengalami perubahan sebanyak 7 kali. Dan gambar di atas menunjukan perubahan logo BI namun sebenarnya BI juga menggunakan logo dengan gambar menyerupai uang-uang terbitan Bank Indonesia. 3 logo terakhir adalah logo yang digunakan sebagai logo korporat.

          


   


          Dalam gedung ini, tidak hanya koleksi yang dipamerkan. Namun perjalanan   sampai terbentuknya BI dan museum BI pun turut di pamerkan. Bahkan perjalanan sampai uang ditemukan pun turut dipamerkan. Diruangan selanjutnya, merupakan ruangan historis tentang perjalanan para penjelajah dunia mencari rempah-rempah di nusantara. Terdapat koleksi replika kapal laut, rempah-rempah, dan biografi para penjelajah dunia yang terkenal seperti Christoper Colombus, Laksamana Cheng-Ho, Marcopolo, dll. Perjalanan terbentuknya BI memang tidak terlepas dari ditemukannya mata uang sebagai alat tukar- menukar dalam kehidupan di dunia. Dalam mencapai hal itu, Indonesia menghadapi banyak permasalahan. Seperti ketika masa penjajahan yang terjadi pada masa lalu. Hal ini merupakan salah sau faktor penggerak terbentuknya Bank Indonesia.

           


Mata Uang Zaman Dahulu


          Ruangan selanjutnya merupakan ruangan Numismatik,. Perkembangan bank indonesia juga tidak terlepas dari kemerdekaan Indonesia. Mata uang ketika masa penjajahan di Indonesia merupakan mata uang yang digunakan oleh negara asing. Yaitu mata uang jepang dan mata uang hindia belanda. Namun pada tanggal 30 Oktober 1946 diterbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai pengganti mata uang asing tersebut. Dalam museum ini, terdapat koleksi mata uang yang berlaku pada pemerintahan Indonesia dari semenjak mata uang ketika Indonesia masih menggunakan mata uang hindia belanda, sampai mata uang Indonesia yang kita pakai sekarang ini. Museum ini juga memperlihatkan koleksi uang-uang koin yang beredar. Dalam ruangan ini, kita dapat melihat uang ini dengan kaca pembesar.

           


Replika Emas


          Selain mata uang, museum ini juga memamerkan replika emas cadangan BI yang dipamerkan dalam sebuah ruangan Ala- brangkas penyimpanan uang. Dalam ruangan ini kita dapan menggenggang emas yang dipamerkan pada sebuah etalase berbentuk kota. Emas yang dipamerkan dibuat sesuai bentuk asli emas batangan dan beratnya pun dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai aslinya. Mungkin ini dimaksudkan agar pengunjung dapat mengetahui bagaimana bentuk dan berat emas yang asli.

            Setelah kita selesai melihat sejarah perkembangan uang dari penjajahan sampai sekarang dan melihat emas replika kita disuguhkan dengan foto-foto gubernur Bank Indonesia mulai dari yang pertama sampai yang terakhir. Disana juga terdapat foto Wakil Presiden Boediono yang dahulu pernah menjabat sebagai gubernur bank Indonesia.



            Setelah selesai melihat foto-foto para gubernur Bank Indonesia selesai juga perjalanan kita di museum Bank Indonesia.



Inilah foto depan gedung museum Bank Indonesia














Senin, 02 Mei 2016

Allah maha Adil

  1. Lupa, melupa, atau dilupakan itu seperti hidup, tak bisa direncanakan. Sekuat apapun komitmen kita dan sekolot apapun kita, bahkan walau sudah terikat janji, tapi kalau yang namanya lupa, hilang semuanya. Hancur. 

    Hidup seperti roda itu benar, kadang kita ada di atas, di tengah, bahkan di bawah, hingga terlindas sekalipun. Salah satunya soal teman. Ada kalanya kita punya banyak teman, dan kadang kita kesepian. Ya, benar-benar sepi. Senyap. Teman yang dulu dipuja-puja, dibanggakan, dilebihkan dari segalanya, kini meninggalkan kita sendirian. Benar-benar sendiri. 

    Memang sosialisasi dan adaptasi itu sangat diperlukan. Move on dari masa lalu dan harus terus melangkah  ke depan itu juga sangat amat perlu. Terkadang kita terjebak masa lalu dimana kita mengalami hal-hal terindah. Sedang senang-senangnya dengan teman, sedang merasakan hangat-hangatnya kekeluargaan dan persahabatan, sedang merasakan cepatnya waktu bergulir jika bermain bersama. Semuanya jadi lupa, dinomorduakan, terbengkalai. Hal itu tidak sepadan saat kita dilupakan oleh sahabat, yang selalu ada dan selalu bersama kapanpun dan dimanapun. 

    Sekarang semua berbeda, jauh, jauh berbeda sekali. Setelah ada kejadian mengerikan yaitu pembagian kelas, aku kesedihan yang sangat amat mendalam. Mulai dari teman, guru, tugas, kegiatan, dan masih banyak lagi. Mutiara yang dulu aku temukan, kini kembali hanyut. Setelah masuk ke kelas masing-masing, egoisme mulai menyelimuti. Entah apakah aku yang terlalu agresif, apakah aku terlalu cemburu, atau karena aku tidak menemukan keseruan seperti yang mereka alami. Mata menangis, hati menangis.

    Di situlah hidup memberi pelajaran kepadaku, betapa labilnya dunia. Semesta ini punya banyak misteri. Kadang memanjakan kita tetapi kadang menampar kita hingga pipi kita terluka. Peringatan untuk tidak selalu bangga dengan apa yang kita punya termasuk sahabat mulai dinyalakan. Mengajarkan dan memberi tau bagaimana jadi orang yang merasa asing dari sekumpulan orang, dan harus bingung kesana kemari untuk mencari keramaian. Sakit rasanya, sakit sekali.

    Sebenarnya, semua itu hanya butuh sosialisasi aktif. Menjadi anggota kelas yang berasal dari kelas yang paling berbeda sebelumnya dan dari lorong bahkan gedung yang berbeda itu beban mental. Krik krik sekali saat di kelas. Namun, asalkan kita mampu mengendalikan emosi dan membuka kotak supel kita, banyak kok yang bisa kita dapatkan. Tapi jika ingat dengan masa lalu, apalagi belum terlalu lalu, hal seperti ini sangat sulit untuk disembunyikan dari raut wajah. Peran kita dalam mengondisikan kelas juga sangat berpengaruh, pandai-pandailah dalam hal ini.

    Aku nggak tau harus seneng apa sedih dengan lingkungan baru ini, yang aku tau dibalik semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Allah Maha Adil.

Sujiwotejo my Inspiration

SUJIWO TEJO

sujiwotejo2aSUJIWO TEJO dikenal sebagai seorang dalang, yang juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan bahkan disebut seorang budayawan. Karya dan pentasnya mengajak kita untuk mengenang masa depan karena masa depan kita ada di belakang, ada pada akar budaya Indonesia yang dibanggakannya. Keinginannya mengangkat akar budaya Indonesia menghasilkan kepeduliannya yang tinggi agar kesenian Indonesia merujuk pada akar budaya tapi diolah dengan metabolisme kreatif sehingga tidak menjadi kuno. Dalam metabolism itu tetap dicerna seluruh hal yang datang dari luar. Dengan pendekatan ini, Indonesia akan dikenali juga sebagai negara yang memiliki seni dan budaya yang modern.
Lahir di Jember, 1962
Pendidikan formal:
  • Jurusan Matematika ITB (1980-1985)
  • Jurusan Teknik Sipil ITB (1981-1988)
WAYANG
tejodalang1
  • 2004   Mendalang keliling Yunani
  • 1999    Menggelar wayang acapella dengan lakon “Pembakaran Shinta” di Pekan Budaya VIII  Universitas Parahyangan Bandung dan Pusat Kebudayaan Perancis Jakarta
  • 1999    Membentuk Jaringan Dalang, bersama para dalang alternatif
  • 1994   Menyelesaikan 13 episode Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia.
  • 1994    Mendalang wayang kulit sejak anak-anak dan mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul: Semar Mesem
PANGGUNG TEATER
Tejothea1
  • 2009    Dongeng Cinta Kontemporer II – Sujiwo Tejo “Kasmaran Tak Bertanda” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta, (13 – 14 November)
  • 2009    Pagelaran Loedroek tamatan ITB ”MARCAPRES” (Sutradara dan Pemain), Gedung Kesenian Jakarta (28 Juni)
  • 2009    Dongeng Cinta Kontemporer I – Sujiwo Tejo “Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (28 – 29 Mei)
  • 2008    Pementasan Pengakuan Rahwana (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (6 Desember)
  • 2008    Pementasan ludruk dengan lakon “Déjà vu De Java” di Auditorium Sasana Budaya Ganesa, (30 November )
  • 2007      Pentas Semar Mesem, Gedung Kesenian Jakarta, 2007.
  • 2006      Freaking Crazy You (sutradara) Gedung Kesenian Jakarta, 2006.
  • 2005    Battle of Love (Sutradara), Gedung Kesenian Jakarta, 2005.
  • 2006      Pentas Kolosal Pangeran Pollux  (Sutradara), JHCC, 2006.
  • 2005    Pentas Kolosal Pangeran Katak (Sutradara), JHCC, 2005.
  • 1999    “Laki-laki”, Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999; kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata.
  • 1989    “Belok Kiri Jalan Terus”, Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, 1989; untuk mas kawin pernikahannya
MUSIK
Tejomusik
sebagai komponis, arranger, player dan penyanyi:
  • 2007    Album Presiden Yaiyo
  • 2005    Album Syair Dunia Maya
  • 1999    Album Pada Sebuah Ranjang
  • 1998    Album Pada Suatu Ketika video klipnya meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000.
Lain-Lain:
  • 1999    Menjadi nominator Most Wanted Male yang digelar MTV Asia.
  • 1986    – 1991 Mengisi acara Sastra Humor di Radio Sponsor of the literature of humor in Continental FM Radio, Radio Estrelita Radio and Radio Ardan Radio di Bandung
  • 1983    Membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi, 1983
  • 1983    Tinjuan kebudayaan di Iran sambil muter film Kafir
  • 1983    Menata musik untuk berbagai pementasan teater di Bandung, seperti Studi Teater Mahasiswa ITB dan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film Universitas Padjadjaran, dekade 80-an
  • 1979    Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso.
  • 1978    Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember
FILM
TejoFilm1
sebagai aktor:
  • 2009    Capres
  • 2008    Kawin Laris
  • 2008    Aborsi,
  • 2006    Malam Jumat Kliwon
  • 2006    Kala
  • 2005    100 Persen Sari
  • 2005    Janji Joni
  • 2003    Sumanto
  • 2001    Kafir
  • 1996    Telegram
sebagai sutradara:
  • 2010    (akan direlease) Bahwa Cinta Itu Ada
  • 2007    Dokumenter Empu Keris di Jalan Padang
  • 2006    Dokumenter Apank Sering Lupa
  • 2005    Dokumenter Kisah dari Mangarai
BUKU DAN TULISAN
tejoTulis
  • 2009    -  sekarang : Kontributor tetap Kolom Mingguan, Wayang Durangpo, Jawa Pos,
  • 2003    The Sax, Penerbit Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Jakarta ISBN 9799714826
  • 2002    Dalang Edan,  Penerbit Aksara Karunia, Jakasampurna, Bekasi, Indonesia, ISBN 9799649641
  • 2001    Kelakar Madura buat Gus Dur, Penerbit Lotus, Yogyakarta, Indonesia
  • 1980    Menulis puisi dan cerita pendek untuk berbagai majalah hiburan, seperti Gadis and Anita pada penghujung
  • 1985    -  sekarang : Menulis laporan-laporan pertunjukan musik, teater, tari dan pameran seni rupa, artikel-artikel  di koran
LUKISAN
Tejolukis
Tahun 2008:
  • Mei      Pameran Tunggal ’Semar Nggambar Semar’, Jogja Gallery, Yogyakarta. (10 – 16 Mei)
  • Maret  Pameran Tunggal ’Super Semar Mesem’, Galeri Surabaya. (11 Maret)
  • Juni     Pameran Bersama di Galeri Rumah Jawa, Jakarta, (Juni)
  • Juli      Pameran Bersama di Café De La Rose, Jakarta (Juli)
Tahun 2007:
  • Pameran Tunggal ’Hitam Putih Semar Mesem’, Balai Kartini, Jakarta (1 November)
  • Pameran Tunggal bulanan di Viky Sianipar Music Center, Jakarta.