Senin, 02 Mei 2016

Allah maha Adil

  1. Lupa, melupa, atau dilupakan itu seperti hidup, tak bisa direncanakan. Sekuat apapun komitmen kita dan sekolot apapun kita, bahkan walau sudah terikat janji, tapi kalau yang namanya lupa, hilang semuanya. Hancur. 

    Hidup seperti roda itu benar, kadang kita ada di atas, di tengah, bahkan di bawah, hingga terlindas sekalipun. Salah satunya soal teman. Ada kalanya kita punya banyak teman, dan kadang kita kesepian. Ya, benar-benar sepi. Senyap. Teman yang dulu dipuja-puja, dibanggakan, dilebihkan dari segalanya, kini meninggalkan kita sendirian. Benar-benar sendiri. 

    Memang sosialisasi dan adaptasi itu sangat diperlukan. Move on dari masa lalu dan harus terus melangkah  ke depan itu juga sangat amat perlu. Terkadang kita terjebak masa lalu dimana kita mengalami hal-hal terindah. Sedang senang-senangnya dengan teman, sedang merasakan hangat-hangatnya kekeluargaan dan persahabatan, sedang merasakan cepatnya waktu bergulir jika bermain bersama. Semuanya jadi lupa, dinomorduakan, terbengkalai. Hal itu tidak sepadan saat kita dilupakan oleh sahabat, yang selalu ada dan selalu bersama kapanpun dan dimanapun. 

    Sekarang semua berbeda, jauh, jauh berbeda sekali. Setelah ada kejadian mengerikan yaitu pembagian kelas, aku kesedihan yang sangat amat mendalam. Mulai dari teman, guru, tugas, kegiatan, dan masih banyak lagi. Mutiara yang dulu aku temukan, kini kembali hanyut. Setelah masuk ke kelas masing-masing, egoisme mulai menyelimuti. Entah apakah aku yang terlalu agresif, apakah aku terlalu cemburu, atau karena aku tidak menemukan keseruan seperti yang mereka alami. Mata menangis, hati menangis.

    Di situlah hidup memberi pelajaran kepadaku, betapa labilnya dunia. Semesta ini punya banyak misteri. Kadang memanjakan kita tetapi kadang menampar kita hingga pipi kita terluka. Peringatan untuk tidak selalu bangga dengan apa yang kita punya termasuk sahabat mulai dinyalakan. Mengajarkan dan memberi tau bagaimana jadi orang yang merasa asing dari sekumpulan orang, dan harus bingung kesana kemari untuk mencari keramaian. Sakit rasanya, sakit sekali.

    Sebenarnya, semua itu hanya butuh sosialisasi aktif. Menjadi anggota kelas yang berasal dari kelas yang paling berbeda sebelumnya dan dari lorong bahkan gedung yang berbeda itu beban mental. Krik krik sekali saat di kelas. Namun, asalkan kita mampu mengendalikan emosi dan membuka kotak supel kita, banyak kok yang bisa kita dapatkan. Tapi jika ingat dengan masa lalu, apalagi belum terlalu lalu, hal seperti ini sangat sulit untuk disembunyikan dari raut wajah. Peran kita dalam mengondisikan kelas juga sangat berpengaruh, pandai-pandailah dalam hal ini.

    Aku nggak tau harus seneng apa sedih dengan lingkungan baru ini, yang aku tau dibalik semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Allah Maha Adil.

Sujiwotejo my Inspiration

SUJIWO TEJO

sujiwotejo2aSUJIWO TEJO dikenal sebagai seorang dalang, yang juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan bahkan disebut seorang budayawan. Karya dan pentasnya mengajak kita untuk mengenang masa depan karena masa depan kita ada di belakang, ada pada akar budaya Indonesia yang dibanggakannya. Keinginannya mengangkat akar budaya Indonesia menghasilkan kepeduliannya yang tinggi agar kesenian Indonesia merujuk pada akar budaya tapi diolah dengan metabolisme kreatif sehingga tidak menjadi kuno. Dalam metabolism itu tetap dicerna seluruh hal yang datang dari luar. Dengan pendekatan ini, Indonesia akan dikenali juga sebagai negara yang memiliki seni dan budaya yang modern.
Lahir di Jember, 1962
Pendidikan formal:
  • Jurusan Matematika ITB (1980-1985)
  • Jurusan Teknik Sipil ITB (1981-1988)
WAYANG
tejodalang1
  • 2004   Mendalang keliling Yunani
  • 1999    Menggelar wayang acapella dengan lakon “Pembakaran Shinta” di Pekan Budaya VIII  Universitas Parahyangan Bandung dan Pusat Kebudayaan Perancis Jakarta
  • 1999    Membentuk Jaringan Dalang, bersama para dalang alternatif
  • 1994   Menyelesaikan 13 episode Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia.
  • 1994    Mendalang wayang kulit sejak anak-anak dan mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul: Semar Mesem
PANGGUNG TEATER
Tejothea1
  • 2009    Dongeng Cinta Kontemporer II – Sujiwo Tejo “Kasmaran Tak Bertanda” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta, (13 – 14 November)
  • 2009    Pagelaran Loedroek tamatan ITB ”MARCAPRES” (Sutradara dan Pemain), Gedung Kesenian Jakarta (28 Juni)
  • 2009    Dongeng Cinta Kontemporer I – Sujiwo Tejo “Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (28 – 29 Mei)
  • 2008    Pementasan Pengakuan Rahwana (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (6 Desember)
  • 2008    Pementasan ludruk dengan lakon “Déjà vu De Java” di Auditorium Sasana Budaya Ganesa, (30 November )
  • 2007      Pentas Semar Mesem, Gedung Kesenian Jakarta, 2007.
  • 2006      Freaking Crazy You (sutradara) Gedung Kesenian Jakarta, 2006.
  • 2005    Battle of Love (Sutradara), Gedung Kesenian Jakarta, 2005.
  • 2006      Pentas Kolosal Pangeran Pollux  (Sutradara), JHCC, 2006.
  • 2005    Pentas Kolosal Pangeran Katak (Sutradara), JHCC, 2005.
  • 1999    “Laki-laki”, Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999; kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata.
  • 1989    “Belok Kiri Jalan Terus”, Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, 1989; untuk mas kawin pernikahannya
MUSIK
Tejomusik
sebagai komponis, arranger, player dan penyanyi:
  • 2007    Album Presiden Yaiyo
  • 2005    Album Syair Dunia Maya
  • 1999    Album Pada Sebuah Ranjang
  • 1998    Album Pada Suatu Ketika video klipnya meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000.
Lain-Lain:
  • 1999    Menjadi nominator Most Wanted Male yang digelar MTV Asia.
  • 1986    – 1991 Mengisi acara Sastra Humor di Radio Sponsor of the literature of humor in Continental FM Radio, Radio Estrelita Radio and Radio Ardan Radio di Bandung
  • 1983    Membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi, 1983
  • 1983    Tinjuan kebudayaan di Iran sambil muter film Kafir
  • 1983    Menata musik untuk berbagai pementasan teater di Bandung, seperti Studi Teater Mahasiswa ITB dan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film Universitas Padjadjaran, dekade 80-an
  • 1979    Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso.
  • 1978    Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember
FILM
TejoFilm1
sebagai aktor:
  • 2009    Capres
  • 2008    Kawin Laris
  • 2008    Aborsi,
  • 2006    Malam Jumat Kliwon
  • 2006    Kala
  • 2005    100 Persen Sari
  • 2005    Janji Joni
  • 2003    Sumanto
  • 2001    Kafir
  • 1996    Telegram
sebagai sutradara:
  • 2010    (akan direlease) Bahwa Cinta Itu Ada
  • 2007    Dokumenter Empu Keris di Jalan Padang
  • 2006    Dokumenter Apank Sering Lupa
  • 2005    Dokumenter Kisah dari Mangarai
BUKU DAN TULISAN
tejoTulis
  • 2009    -  sekarang : Kontributor tetap Kolom Mingguan, Wayang Durangpo, Jawa Pos,
  • 2003    The Sax, Penerbit Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Jakarta ISBN 9799714826
  • 2002    Dalang Edan,  Penerbit Aksara Karunia, Jakasampurna, Bekasi, Indonesia, ISBN 9799649641
  • 2001    Kelakar Madura buat Gus Dur, Penerbit Lotus, Yogyakarta, Indonesia
  • 1980    Menulis puisi dan cerita pendek untuk berbagai majalah hiburan, seperti Gadis and Anita pada penghujung
  • 1985    -  sekarang : Menulis laporan-laporan pertunjukan musik, teater, tari dan pameran seni rupa, artikel-artikel  di koran
LUKISAN
Tejolukis
Tahun 2008:
  • Mei      Pameran Tunggal ’Semar Nggambar Semar’, Jogja Gallery, Yogyakarta. (10 – 16 Mei)
  • Maret  Pameran Tunggal ’Super Semar Mesem’, Galeri Surabaya. (11 Maret)
  • Juni     Pameran Bersama di Galeri Rumah Jawa, Jakarta, (Juni)
  • Juli      Pameran Bersama di Café De La Rose, Jakarta (Juli)
Tahun 2007:
  • Pameran Tunggal ’Hitam Putih Semar Mesem’, Balai Kartini, Jakarta (1 November)
  • Pameran Tunggal bulanan di Viky Sianipar Music Center, Jakarta.

Tips menghadapi Ujian

Berikut tips menghadapi ujian menurut pengalaman saya

1. Tidak menggunakan sistem kebut semalam 
saat menjelang ujian, sebaiknya kita tidak menggunakan sistem kebut semalam apalagi bahan ujian yang banyak. saya sarankan sebaiknya belajar 2 jam saat menjelang ujian, dan jangan sampai belajar hingga larut malam karena dapat menggagu kesehatan.

2. konsentrasi pada materi 
konsentrasi dibutuhkan saat belajar saat menjelang ujian. jangan sampai kita bermain-bermain sambil belajar, karena kita bisa lupa akan materi tesebut. saya sarankan belajarlah dalam kondisi tenang seperti di kamar agar kita dapat berkosentrasi

3. menghafal sambil menulis 
Ini tips dari saya update. saat biasanya menjelang ujian, saya biasanya menghafal sambil menulis karena itu sangat efektif seperti halnya membuat rangkuman atau catatan yang keluar saat ujian tersebut. setelah kalian hafal, coba kalian baca kembali sampai hafal. selamat mencoba

4. mempelajari bahan yang sudah sediakan guru
Tips ini sangat penting karena tidak ada guru yang memberikan ulangan yang keluar dari bahan. oleh karena itu, pelajarilah semua yang sudah diberikan guru kepada kalian.

5. percaya pada diri sendiri / optimis
untuk tips ini adalah sangat penting saat kita sudah selesai belajar. setelah kita belajar, selalu optimis jangan takut pada ujian yang akan datang tersebut karena kalian sudah belajar. dan saat ujian dimulai, sebaiknya berdoa terlebih dahulu agar Tuhan dapat membantu kalian saat kalian mengerjakan ujian tersebut.

6. Saya Sarankan Belajar Di pagi hari
 mengapa saya bilang begitu?  karna kalau belajar pagi" atau subuh subuh pelajaran akan mudah masuk ke otak  karna pikiran Masih jerni .  Beda kalau siang siang cuaca panas hahaha

7. Belajar Jangan Ngebut Ngebut
Belajar dengan terburu buru  saya sarankan jangan di lakukan karna kalau kita belajar dengan terburu buru pelajaran yang kita pelajari akan mudah hilang

Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa Semarang


Salah satu tempat wisata unik yang berada di Jawa Tengah adalahMuseum Kereta Api Ambarawa. Pernahkah Anda berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa ? Jika belum, besok akhir pekan sempatkan waktu untuk datang kesini ya, agar kalian tahu betapa hebatnya negara kita di masa lalu.

Di Museum Kereta Api Ambarawa terdapat kereta kuno yang masih berfungsi dengan baik loh. Menurut berita yang dilansir, kereta api yang ada di Ambarawa ini adalah peninggalan era kuno dan satu-satunya yang ada di Indonesia. Menurut catatan dunia, hanya ada 3 jenis peninggalan kereta api kuno yang masih tersisa, yaitu berada di Ambarawa Indonesia, Swiss dan India.

Dulunya Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api, namun karena jalurnya sudah tidak aktif lagi dialihfunsgikan menjadi sebuah museum. Lokasinya yang berada di Ambarawa dan dekat dengan jalan raya ini membuat Museum Kereta Api Ambarawa selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Jika kalian suka naik kereta, disini pun kalian masih bisa menikmati indahnya jalan-jalan menggunakan kereta kuno. Kereta api wisata ini memiliki rute yang cukup unik, ada 2 rute yaitu rute pendek dan panjang.

Anda bisa memilih salah satu dari 2 rute yang disediakan, harganya pun berbeda-beda. Jika Anda memilih rute pendek, tentu harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan rute panjang. Untuk rute pendek, Anda akan diajak untuk berkeliling kota Ambarawa dan melewati indahnya Rawa Pening yang terkenal itu.

Sedangkan bila Anda memilih rute panjang, setidaknya ada 1 jam lebih untuk melakukan perjalanan sekali berangkat dan kereta api wisata ini akan berhenti di Stasiun Bedono yang berada diatas Kota Ambarawa.


Selain bisa menikmati jalan-jalan bersama kereta api wisata yang sudah kuno dan unik ini, Anda juga bisa belajar mengenai sejarah kereta api Indonesia. Ada beberapa kereta api yang sudah dimuseumkan dan tidak bisa dipakai lagi. Disaat hari libur banyak orang yang berkunjung ke tempat ini dan mereka senang karena bisa melihat langsung kereta kuno nan unik itu.Museum Kereta Api Ambarawa berada di Jalan Stasiun nomor 1 Ambarawa dan lokasinya cukup mudah di jangkau.

Poem Thanks To You

Thanks to You

Thank you, my teachers
For your time used to educate me
You are the second parents to me
Which always I meet every day except Sundays
Thank you, my teachers
You have become my motivator
Thank you, my teachers
You have become my motivation to wake up in the morning
Thank you, my teachers
Homework that you gave to me
Taught me to appreciate the time
In order to not forget my responsibilities
Thank you, my teachers
I will never forget your services
I will never ignore your advices
So that I could reach my big dreams
Artinya:

Terimakasih Untukmu

Terima kasih guru-guruku
Atas waktumu mendidik diriku.
Engkau adalah orang tua kedua bagiku
yang selalu akau temui kecuali hari minggu
Terima kasih guru-guruku
kau telah menjadi motivator hidupku
terima kasih guruku
kau telah menjadi motivasi bangun pagiku.
Terima kasih guru-guruku
Pekerjaan rumah yang kau berikan kepadaku
mengajarkanku menghargai waktu
agar tak lupa tanggung jawabku

Terima kasih guru-guruku
tak akan pernah kulupa jasa-jasamu
tak akan pernah ku abaikan nasehat-nasehatmu
Agar aku bisa mencapai cita-cita besarku

Asal Usul Kota Salatiga



Asal Usul Kota Kelahiran Saya



Kota Salatiga, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan sepenuhnya dengan Kabupaten Semarang. Salatiga terletak 49 km sebelah selatan Kota Semarang atau 52 km sebelah utara Kota Surakarta, dan berada di jalan negara yang menghubungan Semarang-Surakarta. Salatiga terdiri atas 4 kecamatan, yakni Argomulyo, Tingkir, Sidomukti, dan Sidorejo. Kota ini berada di lereng timur Gunung Merbabu, sehingga membuat kota ini berudara cukup sejuk


Salatiga, kota yang terletak persis di sebelah selatan Semarang, bukan hanya menjadi kota yang menghubungkan pelabuhan Semarang dan Kasunanan Surakarta. Sejak dulu, kawasan ini memang punya pengalaman historis yang panjang dan menarik.



Ada beberapa sumber yang dijadikan dasar untuk mengungkap asal-usul Salatiga, yaitu yang berasal dari cerita rakyat, prasasti maupun penelitian dan kajian yang cukup detail. Dari beberapa sumber tersebut Prasasti Plumpungan-lah yang dijadikan dasar asal-usul Kota Salatiga. Berdasarkan prasasti ini Hari Jadi Kota Salatiga dibakukan, yakni tanggal 24 Juli 750 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 Tahun 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga.



Logo Kabupaten Salatiga
Sumber: http://salatigakota.go.id/



Sejarah
Ada beberapa sumber yang dijadikan dasar untuk mengungkap asal usul Salatiga, yaitu yang berasal dari cerita rakyat, prasasti maupun penelitian dan kajian yang cukup detail. Dari beberapa sumber tersebut Prasasti Plumpungan-lah yang dijadikan dasar asal usul Kota Salatiga. Berdasarkan prasasti ini Hari Jadi Kota Salatiga dibakukan, yakni tanggal 24 Juli 750 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 Tahun 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga.



Prasasti Plumpungan, cikal bakal lahirnya Salatiga, tertulis dalam batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170 cm, lebar 160 cm dengan garis lingkar 5 meter yang selanjutnya disebut Prasasti Plumpungan.



Berdasar prasasti di Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, maka Salatiga sudah ada sejak tahun 750 Masehi, pada waktu itu Salatiga merupakan perdikan.



Perdikan artinya suatu daerah dalam wilayah kerajaan tertentu. Daerah ini dibebaskan dari segala kewajiban pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu, daerah tersebut harus digunakan sesuai dengan kekhususan yang dimiliki. Wilayah perdikan diberikan oleh Raja Bhanu meliputi Salatiga dan sekitarnya.



Menurut sejarahnya, di dalam Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum, yaitu suatu ketetapan status tanah perdikan atau swantantra bagi Desa Hampra. Pada zamannya, penetapan ketentuan Prasasti Plumpungan ini merupakan peristiwa yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di daerah Hampra. Penetapan prasasti merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah perdikan atau swantantra. Desa Hampra tempat prasasti itu berada, kini masuk wilayah administrasi Kota Salatiga. Dengan demikian daerah Hampra yang diberi status sebagai daerah perdikan yang bebas pajak pada zaman pembuatan prasasti itu adalah daerah Salatiga sekarang ini.



Konon, para pakar telah memastikan bahwa penulisan Prasasti Plumpungan dilakukan oleh seorang citralekha (penulis) disertai para pendeta (resi). Raja Bhanu yang disebut-sebut dalam prasasti tersebut adalah seorang raja besar pada zamannya yang banyak memperhatikan nasib rakyatnya.



Isi Prasasti Plumpungan ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta. Tulisannya ditatah dalam petak persegi empat bergaris ganda yang menjorok ke dalam dan keluar pada setiap sudutnya.



Dengan demikian, pemberian tanah perdikan merupakan peristiwa yang sangat istimewa dan langka, karena hanya diberikan kepada desa-desa yang benar-benar berjasa kepada raja. Untuk mengabadikan peristiwa itu maka raja menulis dalam Prasasti Plumpungan Srir Astu Swasti Prajabhyah, yang artinya: "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian". Ditulis pada hari Jumat, tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi.



Zaman Islam
Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.



Penamaan Salatiga tidak lepas dari peran KI Ageng Pandanaran II (Bupati Semarang) pada masa pemerintahan Pandan Arang II menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati penduduknya. Namun sesuai dengan nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari hidup keduniawian yang melimpah ruah. la meninggalkan jabatannya, meniggalkan Kota Semarang bersama keluarga menuju arah Selatan, pada saat Ki Pandan Arang II tiba disuatu daerah perdikan ditengah perjalanan dihadang oleh rampok/begal yang berjumlah tiga orang untuk merampok bawaan istri Ki Pandanaran, atas kuasa Allah SWT ketiga perampok tersebut dapat dikalahkan. Setelah kejadian tersebut KI Pandan Arang II menamai daerah tersebut SALATIGA (dari kata salah dan tiga) yang kelak dikemudian hari dikenal menjadi SALATIGA, adapun perampok yang dikalahkan tersebut masuk Islam dan menjadi murid Ki Pandan Arang kemudian mengikuti perjalanan melewati Boyolali akhirnya sampai ke sebuah bukit bernama jabalkat di daerah Klaten.



Zaman kolonial
Pada zaman penjajahan Belanda telah cukup jelas batas dan status Kota Salatiga, berdasarkan Staatsblad 1917 No. 266 Mulai 1 Juli 1917 didirikan Stadsgemeente Salatiga yang daerahnya terdiri dari 8 desa.



Karena dukungan faktor geografis, udara sejuk dan letak yang sangat strategis, maka Salatiga cukup dikenal keindahannya di masa penjajahan Belanda, bahkan sempat memperoleh julukan "Kota Salatiga yang Terindah di Jawa Tengah".



Nama Salatiga kembali mencuat ke permukaan sewaktu digelar perundingan segitiga antara Kasunanan Surakarta, VOC dan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Perjanjian itu digelar di Kalicacing, satu desa yang berada di wilayah Salatiga. Inilah sebabnya perjanjian ini masyhur dikenal sebagai Perjanjian Salatiga.



Perundingan itu dipicu oleh perlawanan bersenjata Pangeran Sambernyawa terhadap VOC maupun Kasunanan. Akhirnya, pada 17 Maret 1757, ditandatangani sebuah naskah perjanjian yang menyebutkan bahwa Pangeran Sambernyawa berhak atas sebagian wilayah Kasunanan Surakarta. Dari perjanjian inilah muncul Dinasti Mangkunegara dan Pangeran Sambernyawa berhak memakai gelar Kanjeng Gusti Adipati Mangkunegara I. Gelar yang sama berhak dipakai keturunan Pangeran Sambernyawa.



Pada masa kolonial, sejak pertengahan abad 19 hingga memasuki abad 20, Salatiga dikenal sebagai daerah peristirahatan bagi para pejabat pemerintah kolonial maupun orang-orang Eropa. Tempatnya yang berada di perbukitan dengan hawa yang sejuk memungkinkan Salatiga menjadi kawasan favorit untuk berlibur dan beristirahat.



Status sebagai kotamadya yang kini disandang Salatiga juga sudah muncul sejak era kolonial. Pada 1 Juli 1917, berdasar Staatsblad No. 266, Salatiga ditetapkan sebagai Stadsgemeente (Kotamadya) Salatiga dengan daerah yang meliputi 8 desa.



Zaman kemerdekaan
Pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, Salatiga pernah dijadikan salah satu basis tentara NICA-Belanda yang berniat kembali menduduki Indonesia. Bersama Ambarawa dan Semarang, Salatiga menjadi salah satu kawasan paling bergejolak.



Salatiga juga menjadi salah satu titik serangan udara yang dilakukan oleh kadet-kadet AURI pada 29 Juli 1947. Dengan menggunakan pesawat Churen yang diterbangkan dari Maguwo, Yogyakarta, kadet AURI itu berhasil menggelar serangan udara selama satu jam. Serangan ini memberi efek psikologis yang strategis karena menunjukkan pada dunia internasional bahwa kekuatan militer Indonesia masih eksis kendati baru saja diserang oleh Belanda lewat Agresi Militer I.



Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga adalah bekas stadsgemeente yang dibentuk berdasarkan Staatsblad 1929 No. 393 yang kemudian dicabut dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kecil Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur,Jawa Tengah dan Jawa Barat. Berdasarkan amanat UU No.22 tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga berubah penyebutannya menjadi Kota Salatiga.

Sinopsis Novel 5cm

Selaluu begini, tujuan saya masuk ke jurusan IPA salah satunya adalah agar tidak banyak tugas dan hafalan, tugas di bidang sciencebiasanya seru dan mengasyikan. Ternyata pada kenyataannya, saya mendapat guru Bahasa Indonesia yang sangat amat baik sekali sampai-sampai waktu saya habis untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Diantara banyak tugasnya yang baru saya kerjakan sebagian, ini dia hasilnya, sinopsis novel 5cm.

Judul buku                   : 5 cm.
Pengarang                    : Donny Dhirgantoro
Penerbit                        : PT Grasindo
Tahun terbit                 : 2005
Tebal halaman              : 379 halaman

            Arial, Genta, Zafran, Ian, dan Riani, lima orang sahabat yang telah mengukir kebersamaan mereka sejak SMA hingga kini mereka berada di perguruan tinggi masing-masing. Sifat dan kepribadian mereka yang berbeda menambah kehangatan jika mereka sedang bersama. Arial dengan tubuh atletisnya yang selalu taat aturan tetapi sulit mengenal orang baru, Genta yang paling dewasa dan menjunjung tinggi kebersamaan, Zafran yang suka berpuisi dan suka dengan adik Arial, Ian yang menyebabkan omset Indomie naik dan penggemar bola juga yang paling telat wisuda, Riani yang super ulet dan sangat bijaksana. Semua saling menyayangi dan saling melengkapi sehingga menciptakan suatu keharmonisan yang menyebabkan mereka tidak terpisahkan ke mana pun dan di mana pun.
            Suatu hari mereka merasa jenuh dengan kebiasaan mereka yang hanya begitu-begitu saja. Genta mengusulkan agar mereka tidak berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan untuk menghidupkan kembali kekentalan persahabatan mereka. Kelima sahabat itu pun setuju meskipun Genta sendiri yang menyimpan rasa kepada Riani sedikit keberatan. Selama tiga bulan mereka tidak bertemu dan berkomunikasi. Untuk mengalihkan kesalingrinduan mereka, mereka menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas. Tanggal 14 Agustus mereka sepakat untuk bertemu.
            Tiga bulan telah berlalu, banyak yang  berubah. Arial menemukan gebetan baru bernama Indy, Zafran menyelesaikan proyek posternya, proyek Event Organizer Genta berhasil, Riani lolos liputan, dan Ian telah menyelesaikan skripsinya. Untuk mengobati rasa rindu mereka yang amat dalam Genta mengusulkan untuk mendaki gunung. 14 Agustus mereka berangkat, adik Arial yang bernama Arinda ikut serta dalam perjalanan mereka ke Mahameru. Selama perjalanan dengan kereta banyak pelajaran hidup yang mereka petik.
            Sebuah perjalanan hati yang mereka lakukan dengan kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang bekerja lebih keras dari biasanya, dan mulut yang selalu berdoa demi mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi Jawa. Mahameru, tanah tertinggi Jawa berdiri dengan gagahnya memiliki sejuta kejutan yang tak terlupakan dan menyibak segala kebesaran Tuhan. 17 Agustus segala kelelahan dan perjuangan mereka terobati ketika melihat Sang Merah Putih berkibar di tanah tertinggi Jawa itu. Rasa syukur, haru, bangga, dan cinta terhadap tanah air ini bercampur menjadi satu di hati mereka. Tanggal 17 Agustus, di puncak tertinggi Jawa, 5 sahabat, 2 cinta, sebuah mimpi mengubah segalanya. Mengubah segala esensi mereka tentang negeri ini, negeri yang awalnya dianggap negeri bobrok karena segala macam ketidakteraturan, kini tak cukup kata cinta mereka dengan tanah air ini, Indonesia.
            Suatu hari di bungalow rumah Arial setelah mereka berkeluarga, Riani yang akhirnya dengan Zafran, Arial dengan Indy, Genta dengan Citra, Ian dengan Bella, Arinda dengan Deniek, teringat akan perjuangan mereka sepuluh tahun lalu. Jika mereka tidak yakin dengan mimpi mereka, mereka tidak akan bisa sampai di puncak Mahameru. Mereka selalu meletakkan mimpi dan keyakinan mereka di pikiran mereka, membiarkannya menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening mereka.